Nostalgia…sesuatu yang sia-sia. Mengenang masa lalu yang tidak mungkin dijemput apalagi diubah. Meraba sisi-sisi memori antara baik dan buruk. Sekedar memuaskan hasrat pada keinginan terulangnya masa yang mungkin lebih baik dari sekarang. Tanpa bisa memastikan bahwa masa itu memang lebih baik atau hanya perlakuan takdir pada kondisi yang jelas berbeda.
Nostalgia…jangan-jangan itu yang selama ini kita lakukan. Berakrab ria dengan kitab-kitab berjudul “Sirah Nabawiyah”, “Sirah Sahabat”, “Biografi Para Imam”, “Sejarah Kekhalifahan Bani Fulan” dan semacamnya. Membalik helai demi helai, terseret arus euphoria kejayaan masa lalu. Berusaha menyelami keagungan dan keistimewaan kisah yang bermuara pada satu kesimpulan: “Semuanya terjadi di zaman dahulu kala”. Sementara kita di sini hanya memeluk erat kitab-kitab itu, atau menyusunnya rapi di atas rak, atau bahkan cuma menjadi pendongeng yang setia menemani sebelum terlelap.
Tidak. Semua itu terlalu mulia untuk disebut nostalgia. Kisah-kisah itu terlalu mulia jika sekedar disebut nostalgia. Ia menceritakan perjalanan orang-orang yang mulia, dalam perjuangan yang mulia, menegakkan satu kalimat yang mulia. Boleh jadi sosok dan keadaan mereka tak lagi wujud di zaman ini. Tapi pelajaran yang mereka tinggalkan selalu layak dan tepat untuk diamalkan sepanjang masa. Karena memang sejarah pasti berulang. Meski dalam kemasan yang berbeda.
Hari ini, ketika kami berdiri di sini, berusaha menggapai puncak kegemilangan untuk mengembalikan kejayaan kepada pemiliknya, mungkin sebagian manusia akan menertawakan. Menganggapnya sebagai angan kosong yang mustahil terwujud. Padahal tidak. Justru ini adalah janji dari Yang Maha Menepati Janji. Kami tidak sedang bermimpi. Dan kami juga tidak sedang bernostalgia.


pertamax…
kancang bana kawan mah…alun sempat urang barangok lai.

tapi dak baa doh…lanjutgan!!
wah jadi inget,,
buku RP 1 ku siapa yang pinjem yah? kok kagak dibalikin
# belajar dari sejarah, untuk mengukir sejarah
bukan saya yg minjam.
mungkin si mugi…tu yg di atas
Bergerak dan berjuang untuk merengkuh kejayaan dan kegemilangan masa lalu
harapan itu masih ada
Itu bukan sekedar nostalgia, itu mengambil hikmah…
atau lebih tepatnya mengebor hikmah,
karena menggali saja tidak cukup
Hikmahnya hancur kena mata bor dong…
(*sayadilemparperkakas)
saya kembali ke konstantinopel…
pada gerbang timur yang tertutup rapat
dan kita bersiap hendak menyerang
aroma kemenangan tercium nyata
tepat dibalik sana..
be the next al-fateh
senang membaca tulisan ini
sangat inspiratif
hmmm… saya juga suka sekali
membaca “Sirah Nabawiyah”
“Sirah Sahabat”
“Biografi Para Imam”
“Sejarah Kekhalifahan Bani Fulan”
dst
semuax memang kitab/kisah yg menggelorakan smangat,ustadz.
semangat untuk “menggapai puncak kegemilangan dan mengembalikan kejayaan kepada pemiliknya”.
menegakkan syari’at Islam di bumi Allah..
bi idznillah