Sungguh asing rasanya berada di sini. Atmosfer yang berbeda dari biasanya. Memperhatikan mereka yang perlahan mulai berubah. Entah lebih baik atau sebaliknya. Mereka semakin ramah, semakin sering tersenyum dan terlihat begitu bahagia. Tapi tidak tahu mengapa, hati ini berkata mereka tidak tulus. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Atau mereka tidak sadar akan sesuatu.
Perhatikanlah pembicaraan mereka. Sangat berbeda dari pembicaraan-pembicaraan yang dulu. Mereka sudah jarang berbicara tentang ibadah, tarbiyah, dakwah dan hal-hal yang dulu membangkitkan iman kami. Pembicaraan mereka sekarang tidak jauh dari uang jutaan, mobil mewah, rumah megah dan…. HAJI ??
Ya, HAJI. “Memangnya ada yang salah dengan HAJI?”.Yang benar saja kawan!! Jujurlah pada diri sendiri, benarkah niat itu tulus? Tidak usah katakan pada kami.
Mereka antusias sekali ingin mendapatkan itu semua. Karena bagi mereka itulah yang disebut IMPIAN. Mata mereka telah digelapkan oleh dunia. Hati mereka telah terpikat pada kemilaunya dunia. Dan mereka membungkusnya dengan cover berjudul IMPIAN.
Oohh teman…hampir saja kau berhasil yakinkan kami tentang semua itu. Hampir saja kau palingkan kami dari impian sesungguhnya. Dan hampir saja kami ikut berlelah-lelah mengejar kesemuan itu.Tapi bagaimanapun, kami tetap berterimakasih. Karena kalian, kami semakin yakin tentang hakikat tujuan.
“Akhi, antum salah paham. Antum tidak mengerti. Tidakkah antum sadar apa yang bisa kita berikan untuk dakwah melalui ini? Tidakkah antum melihat ini sebagai kebaikan?”
Kebaikan apa?! Tanyakan kepada mereka tentang ibadah. Tanyakan pada mereka tentang tilawah. Tanyakan kepada mereka tentang qiyam. Tanyakan pada mereka tentang AMANAH!! Benar, amanah. Amanah untuk menjaga hidayah. Amanah untuk tetap berada dalam lingkaran. Bukan sekedar duduk melingkar. Melainkan…ah, mereka pasti mengerti.
Mereka berharap menjadi seperti ‘Utsman bin ‘Affan. Atau seperti ‘Abdurrahman bin Auf. Padahal keduanya tidak pernah meninggalkan majelis Nabi. Keduanya tidak pernah absen dalam peperangan. Keduanya juga bukan orang yang tergila-gila pada dunia.
Sudahlah, semoga pada akhirnya Allah akan tunjukkan mana yang benar.

ikut merenung hal yang penting ini
makasih banyak ya….
hanya catatan kecil,ustadz.
mantap akh..
semoga wak tetap istiqamah..
semoga
aamiin
sepertinya saya mengert sesuatu dacuy… hmmmmmmm
sesuatu bgt yo cuy
ehemm…curcol
curcol itu…LAKI!!
wah, perlu pemahaman tingkat tinggi bacanya… hiks!!!
tidak juga
hmmm….amanah mnjg hidayah..”sesuatu yg berat”….
moga snantiasa dlm nkmat hidyahNya…
memang berat.
karenanya perlu saling menguatkan.
mengamini untuk doa terakhirnya…
semoga kita juga termasuk orang2 yang diberi petunjuk…
aamiin
*lagi
cinta dunia dan takut mati, masalah yang mengintai aktivis dakwah kini..
benar,wahn.
Dunia oh dunia. Semoga tdk semua kader dakwah begitu…
semoga kita terlepas dari IMPIAN semu tsb…Jazakallah khair bang, barakallahu fik
aamiin.
barakallahu fiik kadzaalik.
sepertinya saya memahami ini
tp kadang ada pengaburan yg hebatt dari mereka dan utk korban mereka
harapannya selain ternyata tjuan keduniaan yg mendominasi juga dipahami dulu keilmuan ttg itu
karena trenyata masih banyak yg diragukan…..
semoga saja para ikhwah tidk terjerumus di situ
kyaknya mas gibean ini pernah pengalaman di situ juga ya…
alhamdulillah mas bro…..
tp sobat sy mas bro,,,,,memnag kehilangan akhirnya…
mas bro tariklah lagi tu kawan sy mas bro…
kira2 butuh berapa kekuatn talinya tu masbro???^_^
mantab dan sesuatu bg…
pada akhirnya tetap harus dijalani dengan ‘keseimbangan’
akhirat tetap dihati meski dunia dalam genggaman.
kita tak pernah tahu pasti apa yang ada dibalik ‘niatnya hati’
kita doakan hidayah dan keistiqomahan
selalu meliputi mereka dan kita semua.
aamiin
hmm….lihat dan perhatikan serta slalu saling menasehati…”setuju bg”.
Insya’allah pd akhirnya mereka akan temukan sendiri hakikat dr impian mereka yg sebenarnya.
semoga saja
terimakasih sudah mau berkunjung