Baiklah, sebelum yang lain menyimpulkan, saya akan terus terang. Tulisan ini adalah bentuk reaksi saya atas protes sebagian kawan-kawan terkait postingan saya di sebuah media jejaring sosial beberapa waktu lalu. Ini bukan sekedar pembelaan diri. Apalagi hanya curcol gajebo. Tapi ini adalah argumen untuk membuka mata.
Lalu kenapa saya tuliskan di sini? Karena berdebat di sana bukanlah cara saya. Sementara mendiamkannya berarti mengakui bahwa apa yang saya lakukan adalah salah atau keliru atau tidak tepat. Sedangkan saya,sampai saat ini, masih yakin bahwa apa yang saya lakukan adalah benar dan masih dalam batas kewajaran.
Yang ingin saya katakan pertama adalah “kita” sekarang tidak lagi berada di zaman itu, kawan. Zaman di mana membicarakan “itu” atau membawa-bawa namanya menjadi sesuatu yang tabu. Zaman di mana kecenderungan dan keberpihakan kepadanya justru mengundang penolakan dan sikap antipati. Saya tidak memungkiri bahwa saat ini pun mungkin sikap seperti itu masih ada. Dan memang tidak akan pernah hilang. Karena begitulah Dia menciptakan musuh untuk siapa saja yang berpihak kepada kebenaran.
Yang jadi masalah sebenarnya adalah penyikapan kalian yang berlebihan. Seperti api yang akan semakin besar ketika disiram minyak. Tapi akan padam dengan sendirinya manakala dibiarkan. Tanggapan kalian itu malah semakin menimbulkan tanda tanya bagi mereka yang selama ini tidak ngeh dengan isu semacam itu. Atau mungkin mereka sudah mulai menerima keberadaan kalian lengkap dengan embel-embelnya. Tapi melihat sikap kalian, mereka malah berbalik atau ikut-ikutan.
Penting untuk kalian camkan, saat ini orang-orang yang tidak menerima “konsep hidup” ini sudah terang-terangan bersatu untuk menghadang “seruan” kita. Apakah kalian masih memilih berkamuflase dengan alasan menjaga eksistensi?
Mungkin suhu kita belum sama. Saya berpikir, ketika kita saat ini sedang menuju orbital puncak, ketegasan dan keberpihakan harusnya semakin ditampakkan. Karena tuntutan semakin besar dan berat. Ini bukan lagi fase “darul arqam”, kawan. Tapi bukan berarti saya tidak mengerti dengan batas-batas. Saya hanya melonggarkannya sesuai dengan tahapan ketika kalian masih dalam keketatan batas dengan alasan yang tidak jelas. Independen?! Saya justru ragu apakah kalian paham makna independen yang sebenarnya.
Independen hanyalah sebuah propaganda yang digembar-gemborkan oleh orang-orang yang merasa terancam dengan perkembangan kita. Dulu, ketika di SMA, saya pernah memakai pin dengan gambar dan warna tertentu. Saya memasangnya di baju seragam dan saya biarkan seperti itu meskipun di dalam lokal ketika belajar. Hal ini berlangsung beberapa hari sampai akhirnya seorang wakil kepala sekolah menegur dan menyuruh saya melepaskan pin itu. Tapi hanya selang beberapa hari setelah itu, seorang guru sekaligus wali kelas di sekolah saya itu justru mebagi-bagikan baju kaos dengan gambar dan warna berbeda tanpa mendapat teguran apa pun.
Maaf, kawan. Bagi saya sikap kalian itu tidak lebih dari gaya sok alergi seperti yang dilakukan orang-orang di seberang sana.

sepertinya sedang terjadi diskusi yang seru terkait suatu hal
tapi sayang, saya gak tau apa isu di seberang sana
sejujurnya…diskusi serunya belum lagi dimulai
nice Maik. Ambo satuju jo antm. Sepakat…..!!!
Nan maandok-andok lah lamo lalu
tumben antum sepakat jo ambo
Jawaban melalui media blog yang asyik untuk disimak dan renungkan…
terimakasih sudah mau membaca tulisan ‘ga jlas’ ini ustadz.
Perdebatan apakah itu?
hanya masalah sepele yg bisa bikin sebagian orang alergi
hmm…
jangan-jangan grup jejaring sosial tempat saya bekerja…^_^
tapi,
saya sepakat dengan tulisan uda di atas
Ini bukan lagi fase “darul arqam”, kawan.
sekarang zaman keterbukaan toh?…
terang-terangan saja
bukan di sana, di tempat lain.
terimakasih sudah sepakat
*lho ?!
ITU…….masih belum mengerti, semoga bisa diselesaikan dengan jernih ya
butuh 4 sks utk menjelaskannya
ok. saya maafkan.
#masalahnyo apo da?
masalahnya ada orang yg tidak mengerti masalah
mungkin selain dari segi pihak lain yang dinilai tidak proporsional dan jatuhnya “phobia” duluan, mungkin dari pihak sendiri perlu introspeksi.. apakah cara/strategi yang digunakan sudah jitu dan ahsan?
sepertinya sudah.
makanya saya sangat yakin “bahwa apa yang saya lakukan adalah benar dan masih dalam batas kewajaran.”
hahaha,,,suka ini…….