Etische Politiek (Politik Etis) atau Politik Balas Budi itu seperti ngeblog. Kunjungi blog orang supaya blog kita dikunjungi. Komentari tulisan orang supaya tulisan kita dikomentari. Cantumkan link ke blog orang supaya dia juga nyantumin link ke blog kita. Atau follow blog orang supaya dia juga follow blog kita. Benar gak ya?!
Ah, tidak semua seperti itu. Masih ada kok…orang yang kita sudah komen di blog dia, dianya gak pernah komen di blog kita. Kita sudah cantumkan link ke blog dia, dianya tak kunjung nyantumin link ke blog kita. Atau juga, kita sudah rela follow blog dia, eh dianya gak juga follow blog kita.
*yang merasa tersindir, harap jangan marah. saya juga masuk kategori kok
Lalu apakah Politik Etis itu buruk? Dalam arti selalu memiliki konotasi negatif?
Jika frame-nya adalah Politik Etis versi VOC, jelas. Tapi saya mempunyai frame yang sedikit berbeda.
Setiap kita melakukan kebaikan, sadar atau tidak, sebenarnya kita sudah menerapkan Politik Etis. Baik itu kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain maupun untuk diri sendiri.
Tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan (pula)”
[Ar-Rahman : 60]
Mungkin ada yang beranggapan, “jika kita melakukan kebaikan dengan harapan agar mendapat balasan, berarti kebaikan yang dilakukan tidak ikhlas?!”
Untuk konteks mengharapkan balasan dari orang lain, bisa jadi ya. Tapi jika balasan yang diharapkan adalah pahala dari Allah s.w.t. serta kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka ini tidak ada hubungannya dengan keikhlasan.
“Lho, bukannya sama saja?! Harusnya kita kan berbuat baik itu semata-mata karena Allah saja. Tidak pakai embel-embel lain!! Tidak karena mengharap pahala atau juga mengharap surga?!!”
Mmm…pikiran seperti ini terlalu naif. Lalu untuk apa Allah s.w.t selalu mengiming-imingi pahala dan keindahan surga untuk orang yang berbuat kebaikan?!! Bukankah supaya orang semakin termotivasi untuk melakukannya?!!
Ayolah, lakukan saja kebaikan sebanyak-banyaknya agar mendapatkan balasan yang banyak juga.

urusan ikhlas mah cuma Allah dan pelaku amal yang tahu, bahkan malaikat dan iblis tak pernah tau
malah pelaku amal pun terkadang tak bisa memastikan apakah dia ikhlas atau tidak
wah…, setuju banget tuh….
yuk, lakukan saja kebaikan sebanyak-banyaknya
[termasuk dalam ngeblog]
agar mendapatkan balasan kebaikan yang banyak juga…
yuk…

I like..
benar bijak
terimakasih

mungkin berpikir positif aja ya mas, kita berbuat kebaikan aja dulu ikhlas, entah mau dibalas oleh orang yang kita baiki itu terserah… samasekali tidak masalah, kan sudah ada Allah yang balas ya
benar mbak…
(walah, dipanggil mas lagi)
terpaksa komen….
hehe
kalau terpaksa, berarti tidak ikhlas

ikhlas lah, eh sms ambo tadi lai masuak? ambo minjam kerel atau tas ransel nan agak gadang, lai ado..
insyaAllah.
tingga angko-angko nyo selai
aman tu, ambo yakin antum ikhlas meminjamkannyo.. dima bisa ambo ambiak?
gpp.. mendingan komen dibalas dengan pahala daripada komen dibalas dengan komen…
jadi judulnya…”Bialah Pado Indak”
